Suara Partai PPP Mendadak Turun Drastis, "Soroti" Suara PSI yang Naik Signifikan



JAMBI -- Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Baidowi meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) menaruh perhatian lebih terhadap anomali penghitungan suara partai di Sirekap. Terutama penuruanan suara yang dialami PPP.


Achmad Baidowi menekankan anomali yang terjadi di penghitungan Sirekap tersebut harus menjadi warning atau peringatan bagi KPU.


"Kami mengingatkan KPU bahwa sesuai dengan Undang-Undang 7 tahun 2017 Pasal 393 menyebutkan bahwa hasil yang sah itu adalah penghitungan berjenjang yang disaksikan oleh partai politik. Sirekap itu hanya alat bantu yang tidak memiliki kekuatan hukum," kata Baidowi kepada wartawan, Minggu (3/3/2024).


Baidowi menyampaikan bahwa PPP juga sudah menyampaikan langsung kepada KPU ihwal anomali yang terjadi di penghitungan Sirekap.


"Kami sudah menyampaikan protes ke KPU. Janjinya mau dilihat lagi mau diperbaiki dan memastikan KPU tidak menggunakan Sirekap dalam basis penghitungan hasil suara partai," kata Baidowi.


Sebelumnya, Baidowi mengkritisi penghitungan suara PPP di Sirekap yang justru mengalami penurunan. Padahal jumlah TPS yang masuk bertambah.


Secara logika, menurut Awiek, seharusnya suara PPP juga bertambah seiring bertambahnya jumlah TPS yang dihitung. Tetapi, dilihat awal Maret, perolehan Suara PPP justru berkurang dibanding pada akhir Februari.


"Ya terkait dengan data Sirekap KPU memang terjadi anomali, khususnya di suara PPP. Contoh pada tanggal 28 Februari, itu suara PPP dalam posisi 3 juta 58 ribusekian tapi hari ini itu 3 juta 40 ribu sekian. Karena kemarin sempat turun dari 3 juta 58 ribu menjadi 3 juta 20 ribu sekian, baru naik, naik, naik," tutur Baidowi kepada wartawan, Minggu (3/3/2024).


"Nah sementara jumlah TPS yang masuk itu bertambah kan harusnya jumlah suaranya bertambah, bukan berkurang," kata Baidowi.


Sebaliknya, Baidowi menyoroti kenaikan suara yang dialami partai politik lain. Sorotoan itu karena kenaikan di parpol terkait tidak wajar.


"Sementara ada partai lain yang mengalami kenaikan tidak wajar. Sementara PPP, bukan persentasenya, kalau persentase itu otomatis karena otomatis mengikuti jumlah suara. Ini masalahnya suara yang didapatkan itu turun, maka kemudian terkoreksi, akumulasi PPP 3,97 persen saat ini," tutur Baidowi


Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy menyoroti ledakan signifikan dari perolehan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 


Sorotan itu ia tulis melalui unggahan di akun instagram pribadinya @romahurmuziy.


"Ini ledakan tak wajar suara @psi_id yang monitoringnya saya cuplik salah satunya dari yang beredar di media sosial," tulis pria yang akrab disapa Rommy itu seperti dilihat Minggu (3/3/2024).


Ia memandang perolehan suara PSI yang naik signifikan itu tidak masuk akal. Sebab, hanya diperoleh dari 110 TPS.


"19 ribu suara dari 110 TPS, berarti rata-rata 173 suara per TPS. Dengan suara per TPS hanya 300 suara, dan partisipasi pemilih rata-rata 75%, suara sah setiap TPS ini hanya 225 suara. Artinya, PSI menang 77% di 110 TPS itu. TIDAK MASUK AKAL!" tulis Rommy.


Ia lantas meminta KPU dan Bawaslu menindaklanjuti lonjakan suara PSI tersebut.


"Saya dan @dpp.ppp mohon atensi dan tindak lanjut seksama dari @kpu_ri dan @bawasluri untuk tidak menutup mata dari penyimpangan ini!" tulisnya.



Sumber: SuaraCom

Posting Komentar

0 Komentar